Maret 21, 2026

Novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu - Lee Kkoch-Nim

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Keberuntungan Sedang Menghampirimu

Penulis: Lee Kkoch-Nim

Penerjemah: Iingliana

Desain sampul: Martin Dima

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2025

Tebal: 208 hlm. 

ISBN: 9786020686585


Hyeong-su dan Wu-yeong secara kebetulan melihat teman sekelas mereka, Eun-jae, dipukuli ayahnya dengan brutal. Semenjak itu keduanya terusik, ada panggilan hati ingin tahu lebih banyak apa yang sebenarnya terjadi di hidup Eun-jae. Umur mereka yang masih 15 tahun menjadi gap untuk jadi pahlawan melawan orang dewasa. Tapi kekerasan itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Apakah Hyeong-su dan Wu-yeong bisa menyelamatkan Eun-jae?



***

Jujur, baca novel ini bener-bener bikin sesak nafas, sedih, marah, dan sakit hati. 

Novel ini berhasil menggambarkan penderitaan remaja perempuan yang mengalami kekerasan oleh ayahnya sendiri. Ibunya Eun-jae pergi meninggalkannya dan sejak itu ia jadi sasaran amarah ayahnya. Rumah sudah seperti neraka, penuh kemarahan, penuh luka, dan penuh ketakutan. Mental Eun-jae sudah rusak, ia bahkan tidak yakin bisa keluar dari penyiksaan itu dan yang ada dalam benaknya hanya ingin mati saja. Orang di sekitarnya yang pernah mencoba membantu tapi tidak berhasil makin membuat Eun-jae pesimis dengan takdir hidupnya.

Hyeong-su dan Wu-yeong jadi tokoh yang membawa aura beda di novel ini. Persahabatan mereka lucu dan konyol. Saya sangat terhibur dengan ulah mereka yang bikin banyak salah paham. Gong-nya pas ide Hyeong-su supaya Wu-yeong tidak jadi bahan gosip kalau ia pacaran dengan Ketua Kelas justru bikin membuat Ketua Kelas resmi jadi pacar Wu-yeong. Dari sini hubungan ketiganya makin dinamis dan kemudian terseret ke masalah Eun-jae.

Meskipun keduanya kelihatan seru tapi sebenarnya mereka punya masalah masing-masing. Hyeong-su berasal dari keluarga harmonis tapi masalahnya adalah dia tidak tahu ia ingin jadi apa. Sedangkan Wu-yeong memiliki masalah lebih pelik sebab ia jadi anak yang dibebani obsesi ibunya untuk selalu berhasil. Hidupnya diisi banyak les karena menurut ibunya jika anaknya mendapat nilai 100, maka ibunya pun sukses mendapatkan nilai 100.

Sedih banget pas baca bagian ucapan ibunya Wu-yeong, "Sudah berapa kali kubilang kau harus berhasil supaya ibumu juga berhasil? Sudah berapa kali kubilang kalau kau gagal, hidup ibu juga akan gagal? Sudah berapa kali?!" (hal. 143) Mental anak yang dipaksa sempurna benar-benar rusak dan rentan. Kata-kata tekanan membuat jiwanya jadi pengecut, bimbang memutuskan sesuatu, dan komitmennya angin-anginan.

Novel ini cukup unik karena menggunakan sudut pandang dari dewi keberuntungan yang saban waktu mengawasi tokoh-tokoh di sini. Ada beberapa pernyataan berisi simpati dari dewi keberuntungan dengan nasib remaja-remaja ini. Tapi porsi kemunculan sudut pandang ini minim jadi tidak bikin bingung, kayak baca novel umumnya yang pakai POV ketiga saja.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan penulis sangat beragam. Selain Eun-jae, Wu-yeong, dan Hyeong-su, kita akan kenalan juga dengan tokoh lainnya yang punya peran penting seperti Ketua Kelas, Pelatih Choi, dan Ji-jeong. Mereka adalah orang-orang hebat yang bisa menarik Eun-jae keluar dari neraka hidupnya.

Dari novel ini kita diajak merenung soal bisakah kita membantu orang-orang di sekitar kita yang mengalami kekerasan. Atau justru kita akan abai dengan dalih bukan urusan kita. Apakah jika kita melihat anak yang dibully oleh teman-temannya kita akan membantu? Atau apakah jika kita melihat perempuan muda yang dikasari pacarnya kita akan membantu? Saya sedih banget pas membayangkan jika tokoh Eun-jae sampai meninggal gara-gara tokoh-tokoh lainnya tidak bisa membantu dengan maksimal padahal mereka tahu seberat apa masalah yang menimpanya. Untungnya penulis tidak membuat ceritanya jadi begitu gelap.

Ada bagian paling super emosional di novel ini yaitu saat Eun-jae sudah dijauhkan dari ayahnya dan ia mendapati keadaan kontainer sepak bola tempat aman ia tinggal dalam kondisi berantakan. Eun-jae sangat marah dan ia berlari kencang. Bukan menuju ayahnya untuk membalas semua ulahnya melainkan ke kantor polisi. Ia membuka kardigan yang selama ini dipakai untuk menutupi lukanya. Dan pada momen itu polisi pun ternganga melihat saking parahnya kekerasan yang sudah dialami Eun-jae. Memar di atas memar, luka dibekas luka. Klimaksnya saat Eun-jae bilang, "Tolong... aku." SUMPAH SEDIH BANGET.... KENAPA BARU SEKARANG, EUN-JAE?


  • Hidup sering kali bergurau dan hanya sesekali menyediakan kesempatan. Namun, orang-orang tidak bisa mengetahui kesempatan-kesempatan apa yang tersedia untuk mereka. Kesempatan untuk dimaafkan, kesempatan untuk menjadi berbeda, kesempatan untuk mengubah hidup (hal. 65)
  • Membesarkan anak memang sulit. Kau mungkin merasa baru mulai berhasil menyesuaikan diri, tetapi anak-anakmu sudah melompat jauh mendahuluimu (hal. 79)
  • Cinta sejati adalah menyukai seseorang apa adanya. Seandainya kau lebih kurus, seandainya kau lebih tinggi sedikit, seandainya kau lebih pintar bicara, seandainya kau lebih pintar di sekolah... Bukannya membicarakan kekurangan yang tidak ada akhirnya, seharusnya seseorang disukai karena segala hal tentang dirinya (hal. 112)
  • Hidup itu bagaikan bola yang tidak bisa diduga ke mana arah pantulannya. Kitalah yang menentukan apakah kita bisa mempertahankan bola itu atau membiarkan lawan merebutnya (hal. 117)
  • Orangtua bodoh yang yakin bahwa anak-anak yang berusaha keras memahami orangtua, meski harus menerima berbagai kata-kata dan tidakan kasar, adalah anak-anak yang patuh dan akan tumbuh besar tanpa masalah. Berbeda dengan dugaan bodoh kalian, anak-anak justru akan semakin menjaga jarak. Ketika anak-anak semakin kuat dan tidak lagi takut pada kalian, mereka pasti akan bersiap-siap meninggalkan kalian tanpa menoleh ke belakang (hal. 146)
  • "Kalau kau membuat seseorang tertawa, bukankah itu berarti kau orang yang berguna?" (hal. 203)


Saya sangat merekomendasikan novel ini dibaca oleh siapa pun. Biar kita lebih peduli dengan orang-orang yang mengalami kekerasan tapi tidak bisa minta tolong saking korban ketakutan. Sedih, lucu, dan menghangatkan hati membuat novel ini begitu bermakna. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Keberuntungan Sedang Menghampirimu karya Lee Kkoch-Nim ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Maret 01, 2026

Bebukuan Februari 2026


Halo! Apa kabar?

Sudah awal bulan aja lagi ya... Dan sebelumnya saya mau mengucapkan selamat berpuasa untuk yang sedang menjalankannya. Semoga dilancarkan sampai ke hari raya. 

Seperti biasa setiap bulan saya akan memposting artikel Bebukuan yang isinya berupa informasi buku apa yang sudah dibaca dan buku apa saja yang masuk ke TBR. Dan berikut rekapannya:


Bacaan Februari 2026

1. The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) | L. Frank Baum

2. Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa) | Han Su-In


Koleksi Februari 2026

1. Penguasa Sembilan Gunung | Pu Songling

2. Mahluk Penunggu Telinga | Pu Songling

3. Ketempelan Siluman Rubah | Pu Songling



Saya beli ketiga buku ini lantaran sampulnya yang keren. Jarang-jarang saya beli buku dengan alasan tadi. Tapi sekalian mau menjajal cerita-cerita dari Tiongkok, rasanya seru aja kalau langsung punya semua bukunya.


4. Seekor Anjing Mati Di Bala Murghab Dan Cerita-Cerita Lain | Linda Christanty



Saya sudah membaca dua kumcer penulis yang Rahasia Selma (Penerbit Basabasi) dan Kuda Terbang Maria Pinto (Penerbit EA Books), dan saya sangat menyukai cara penulis bercerita. Kaget sih pas lihat sampul buku penulis dengan tampilan ciamik dan ternyata sudah berlabuh di Penerbit KPG. Saya akhirnya membeli kumcer penulis yang belum saya baca. Dan rencananya dua buku lainnya bakal saya koleksi juga nantinya.


5. The Golden Road (Hari-Hari Bahagia) | L. M. Montgomery

6. Lassie Come-Home (Lassie Pulang) | Eric Knight

7. The Secret Garden (Taman Rahasia) | Frances Hudgson Burnett



Setelah bulan Januari lalu saya beli novel klasik dan menikmati membaca ceritanya, saya memutuskan untuk mulai membaca novel klasik yang lainnya. Saya sudah membuat daftar judul novel klasik yang dirilis Gramedia dan saya akan usahakan untuk membacanya. Oya, novel klasik Gramedia sudah susah dicari jadi kemungkinan saya akan membaca lewat ebook juga.


8. Eragon | Christopher Paolini

9. Teka-Teki Gambar Aneh | Uketsu



Novel Eragon adalah series soal naga yang bisa dibilang buku lama tapi masih banyak yang membicarakannya karena bagus. Rasanya sayang aja kalau sampai enggak baca. Sedangkan buku Uketsu terbaru ini saya beli karena hype-nya lumayan kenceng, apalagi buku sebelumnya yang Teka-Teki Rumah Aneh banyak dipuji oleh pembaca, jadi patutlah untuk mulai membaca karya beliau.


10. Rasina | Iksaka Banu

Novel sejarah yang katanya membahas soal ketragisan. Dulu pernah beli tapi keburu dijual lagi novelnya. Dan kebetulan pas akhir bulan banget harga buku ini di Lazada jadi lebih murah, tanpa pikir panjang langsung beli. [karena belinya pas akhir bulan banget, bukunya belum datang]

***


Di Februari ini saya sudah lebih sedikit beli bukunya tapi kalau sejumlah uangnya masih lumayan ya. Semoga ke depannya bisa lebih fokus ke membaca dibandingkan ke beli buku. Asli, TBRnya makin menggunung saja. 

Nah, sekian update Bebukuan Februari 2026 ini. Kira-kira buku mana yang harus dibaca duluan? Dan boleh dong share buku apa yang kamu baca dan buku baru apa yang nambah di TBR?


Februari 23, 2026

Novel Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa) - Han Su-in

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]


Judul: Witch Bakery (Toko Roti Pengantar Jiwa)

Penulis: Han Su-in

Penerjemah: Dwita Rizki

Desain sampul: Hastapena

Penerbit: BACA/ PT Bentara Aksara Cahaya

Terbit: Oktober 2025, cetakan pertama

Tebal: 220 hlm.

ISBN: 9786238371495


Novel ini menceritakan tentang siswi SMP bernama Lala yang mendapatkan pekerjaan paruh waktu di Toko Roti Manyeo. Toko roti yang dikelola oleh perempuan bernama Kim Manyeo dan kucing ajaib yang bisa berbicara, Jaerong, bukanlah toko roti biasa, melainkan tempat singgah para roh hewan yang butuh memwujudkan harapan terakhirnya sebelum pergi ke Dunia Bawah.

Roh atau Doong Doong hewan itu akan mendiami roti sampai ia ditemukan kembali oleh tuannya. Dan mempertemukan Doong Doong dengan tuannya cukup pelik. Bakat Lala untuk melihat masa lalu dari para Doong Doong ini sangat membantu prosesnya.

Bobae adalah roh ikan yang ingin berpamitan dengan Jeongseo dan keluarganya. Mori adalah roh anjing yang memiliki drama rumit sebab ia menghindari Lala bertemu dengan pemiliknya karena ada bahaya yang mengancam. Dua Doong Doong ini justru membawa Lala, Manyeo, dan Jaerong kepada kejadian mengerikan yang ditimbulkan oleh roh jahat Youngjeong. Bahkan kematian Bobae dan Mori akibat ulahnya.

Youngjeong memiliki misi jahat dengan membunuh hewan-hewan. Lala yang memiliki bakat istimewa merasa terpanggil untuk menghentikan kejahatannya. 

Tapi berhasilkan Lala menyegel kembali Youngjeong agar tidak ada lagi hewan-hewan yang jadi korban?



***

Novel ini memiliki ide cerita yang fresh buat saya; menceritakan roh-roh hewan yang penasaran dan butuh penyelesaian dengan pemiliknya sebelum mereka kembali ke langit. Pembaca diajak lebih dekat kepada kisah orang-orang yang memiliki hewan peliharaan. Rasa sayang dan kehilangan dipadukan menjadi drama yang mengaduk emosi.

Sisi fantasi yang disajikan lumayan kental dan beberapa bagian menurut saya susah dibayangkan. Selain perwujudan Doong Doong dari hewan-hewan, ada juga proses perpindahan tempat menggunakan kipas, pohon Zelkova Keramat, dan masuk lewat sketsa yang menurut saya fantasinya ketinggian. Bahkan membayangkan bentuk hewan menjadi kue pun sangat susah buat otak saya, hehe, padahal ini pondasi dari keseluruhan kisahnya.

Setelah kemunculan karakter jahat Youngjeong, cerita mulai terang benderang menjadi misteri dan survival. Pertarungan antara Lala dan Youngjeong tak bisa dihindari. Seru sekali mengikuti Lala, Manyeo dan Jaerong berusaha menyegel kembali Youngjeong.

Dan saya cukup terkesan dengan detail-detail yang disajikan karena tidak mubazir. Pada akhir cerita semua akan terungkap kenapa muncul permintaan yang bisa diwujudkan langit dan adanya kontrak kerja.

Di sini juga dijelaskan secara umum makna shio dari 12 hewan-hewan. "...Ada 12 hewan yang dikelompokkan menjadi; macan, kelinci, dan naga sebagai musim semi; ular, kuda, dan kambing sebagai musim panas; monyet, ayam, dan anjing sebagai musim gugur; dan babi, tikus, dan kerbau sebagai musim dingin. Hewan terakhir di setiap musim adalah naga, kambing, anjing, dan kerbau. Hewan-hewan itu berperan untuk mengakhiri musim dan menyambut musim berikutnya. Mereka memiliki kekuatan khusus. Kekuatan yang menyimbolkan akhir, penutupan, ketiadaan, dan kematian." (hal. 212-213). 

Untuk tokoh-tokoh pemelihara hewan, saya bisa mengerti dengan kehidupannya. Tetapi untuk karakter Lala sebagai tokoh utamanya, saya merasa masih kurang tergali lebih dalam bagaimana kehidupannya dengan keluarganya. Meski saya tahu kalau ibunya sudah meninggal karena kecelakaan, tapi bagaimana hubungannya dengan keluarga yang lain tidak diungkapkan.

Untuk penerjemahan novel ini seperti ada ketidakluwesan karena saya kurang menikmati proses membacanya. Beberapa kali saya juga merasa gap ketika narasi plot sedang maju tiba-tiba manuver ke narasi plot mundur. Alhasil saya harus memastikan ulang di momen itu.

Secara keseluruhan novel ini seru karena membawakan kisah yang unik yaitu membahas soal mereka yang memelihara hewan dan bagaimana hubungan kasih sayang itu terjalin. Sisi fantasinya lumayan berat tapi dibayar lunas saat cerita mulai menuju ke perseteruan antara tokoh baik dan tokoh jahat. Novel ini pas dibaca untuk penyuka literasi korea dengan kisah drama tentang kehilangan. 

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Witch Bakery karya Han Su-in ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!


Februari 22, 2026

Novel The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz) - L. Frank Baum

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]



Judul: The Wonderful Wizard Of Oz (Penyihir Dahsyat Dari Oz)

Penulis: L. Frank Baum

Penerjemah: Rosi L. Simamora

Editor: Tanti Lesmana

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Januari 2026

Tebal: 182 hlm.

ISBN: 9786020686455


Mengawali bacaan di Februari dengan novel klasik yang ringan dan bisa dibilang ini buku untuk anak-anak.

Novel ini menceritakan anak perempuan bernama Dorothy yang diasuh oleh Bibi Em dan Paman Henry. Suatu hari rumah mereka dihempas angin puyuh dan membawa Dorothy dan anjingnya, Toto, terdampar di Negeri Oz.

Negeri Oz adalah negeri yang indah dan tenang namun Dorothy tetap ingin kembali ke Kansas untuk bertemu dengan bibi dan pamannya. Kata para Munchkin, Dorothy harus meminta tolong Penyihir Agung Oz di Kota Zamrud. 

Petualangan Dorothy dan Toto pun dimulai. Namun ia tidak sendirian sebab dalam perjalanannya Dorothy bertemu dengan Orang-orangan Sawah, Penebang Kayu Timah, dan Singa Penakut. Mereka melakukan perjalanan dengan membawa harapan masing-masing. Dorothy ingin kembali ke Kansas, Orang-orangan Sawah ingin diberikan otak agar tidak bodoh, Penebang Kayu Timah ingin diberikan hati agar memiliki perasaan, dan Singa Penakut ingin diberikan keberanian.

Banyak halangan dan tantangan yang menghadang tetapi berkat saling tolong menolong mereka bisa melaluinya. 

Tetapi apakah Penyihir Agung Oz akan mengabulkan harapan mereka?



***

Dengan membawa tema petualangan, novel ini sangat seru dibaca. Walau tujuan utamanya bertemu dengan Penyihir Agung Oz, namun penulis tidak menyelesaikan perjalanannya semudah itu. Dorothy dan teman-temannya harus pergi ke Negeri Winkie untuk menghancurkan Penyihir Jahat dari Barat. Dan setelah berhasil, Oz meninggalkan Kota Zamrud dengan balon udara. Dorothy dan teman-temannya kembali harus ke Selatan menemui Penyihir Baik, Glinda.

Perjalanan Dorothy dan teman-temannya yang enggak mudah membuat kisahnya semakin menarik dan membuat penasaran. Mereka dikejar binatang buas, harus melewati taman Opium yang beracun, hampir terbawa arus sungai besar, harus menghadapi mahluk aneh di balik bebatuan dan masih banyak rintangan lainnya.

Selain itu cerita latar belakang beberapa tokoh menambah kisahnya lebih utuh seperti awal mula Orang-orangan Sawah dibuat atau kenapa Penebang Kayu Timah bisa jadi seperti sekarang padahal dulunya adalah manusia.

Tokoh-tokoh yang dihadirkan pun ampuh menghidupkan cerita. Dengan ragam bentuk dan keajaiban yang dimunculkan, kisah fantasinya semakin lugas terasa. Apalagi dunia Oz yang dibangun penulis yang luas dan memiliki kekhasannya masing-masing membuat kisahnya jadi lebih fantastis.

Dari novel ini kita bisa belajar tentang ketulusan membantu sesama agar kebaikan itu kembali kepada kita. Dorothy dan teman-temannya kerap membantu beberapa makhluk lain dan mereka pun selalu terbantu ketika kesulitan datang.

Novel ini menyenangkan dibaca dan pas kalau dibaca anak-anak. Tidak sulit mengikuti ceritanya meskipun ini fantasi. Saya sangat bisa menikmati petualangan Dorothy dan teman-temannya.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel The Wonderful Wizard Of Oz karya L. Frank Baum ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



Februari 21, 2026

Bebukuan Januari 2026


Halo! Apa kabar?

Saya senang sekali bisa menulis artikel Bebukuan lagi setelah beberapa bulan di tahun lalu hanya jadi draft tanpa pernah terpublikasikan. Dan untuk bulan Januari ini pun sudah sangat terlambat. Mohon dimaklum karena sebagai pekerja di divisi keuangan awal tahun begini padat dengan laporan keuangan, proses audit, dan persiapan lapor pajak badan. Susah sekali menyelesaikan tulisannya, hehe.

Mengingatkan kembali juga kalau tujuan artikel ini masih sama, untuk merekap buku apa saja yang sudah dibaca dan buku apa yang masuk ke TBR. 

Dan berikut adalah rekapan Bebukuan Januari 2026:


Bacaan Januari 2026

1. Novel (Bukan) Pengantin Baru | Yessie L. Rismar

2. Novel Mata Dan Nyala Api Purba | Okky Madasari

3. Buku Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene | Rita Triana Budiarti

Walaupun cuma tiga buku yang bisa saya baca di awal tahun ini, tapi saya sangat senang sekali. Soalnya saya lagi di fase susah baca buku sampai selesai dan tiga buku ini jadi bukti kalau saya masih bisa menikmati membaca buku, hehe.


Koleksi Januari 2026

Jujur, budget beli buku 100K untuk tiap bulan hanya wacana di bulan Januari kemarin. Saya kalap beli banyak buku baru. Dan berikut daftarnya:

1. Hari Ini Aku Datang Kembali Ke Toko Buku Kobayashi | Tetsuya Kawakami



Januari kemarin Klub Baca Cirebon alias KBC ulang tahun yang kedua dan saya sebagai pengurus pengen kasih buku buat hadiah giveaway-nya. Kepikiranlah dengan buku ini. Jadi saya beli 2 buku di Lazada. Setelah nunggu lama paket dikirim, eh malah dapat kabar kalau stoknya kosong. Pas cek di websitenya ternyata masih tersedia. Biar dikirim enggak lama karena sudah mepet sama acara KBC, saya pilih dikirim dari Gramedia Tegal karena di Gramedia Cipto dan Gramedia Grage Mall lagi kosong.

Iseng dong pesan lagi di Lazada dan ini malah dikirim. Lho? Jadi novel ini saya beli sampai 3 buku. 1 sudah jadi hadiah giveaway KBC, 1 jatah saya buat dibaca, dan 1 lagi bakal jadi hadiah giveaway di blog ini. Tungguin aja ya!


2. Romantika Runika | Nureesh Vhalega

3. Black Powder War (Temeraire #3) | Naomi Novick

4. Kamu, Matahariku | Vie Asano

5. Madar | Crowdstroia

6. Pay Sooner Or Later | Adrindia Ryandisza

7. Sarhad | Crowstroia

8. The Mortician | Ririn Ayu

9. (Bukan) Pengantin Baru | Yessie L. Rismar






Pas Penerbit Elex Media Komputindo menggelar diskon besar-besaran di website gramedia.com, saya langsung beli novel-novel di atas. Kapan lagi bisa dapat novel bagus dengan harga sangat terjangkau... SIKAT!!!


10. Box Set Seri Kumbang | Enid Blyton




Sudah lama sekali penasaran dengan seri ini karena sebelumnya saya sudah membaca salah satu bukunya yang judulnya Tiga Permintaan Dan Cerita-Cerita Lain. Setelah beberapa lama memantau harganya, eh ketemu momen juga dapat buku ini dengan harga lebih murah. Dan ini kayaknya stok terakhiran. Jadi saya ngerasa bener-bener udah berjodoh dengan seri ini.


11. Keajaiban Toko Kelontong Namiya | Keigo Higashino

12. Mata Dan Api Purba | Okky Madasari



Novel Api Purba saya beli karena pengen menuntaskan series anak karya Okky Madasari. Udah tanggung banget karena ini judul terakhir seriesnya. Sedangkan Toko kelontong Namiya saya pilih karena pengen mulai baca karya Keigo Higashino. Syukur kalau cocok bisa baca karya yang lainnya karena beberapa pembaca memberikan respon positif untuk buku-bukunya.


13. Agnes Grey | Anne Bronte

14. The Wonderful Wizard Of OZ | L. Frank Baum



Dua buku klasik dibeli karena pengen mulai menjajal cerita-ceritanya. Bahkan saya sudah membuat daftar novel klasik apa saja yang sudah diterbitkan Gramedia. Semoga saja saya bisa membaca kesemuanya.


15. Hingga Hilang Pedih Perih | Akaigita



Penulis ini pernah membuat saya terkesan dengan bukunya yang Ephemera dan kayaknya seru juga kalau menyusul membaca buku-bukunya yang lain.


16. Witch Bakery | Han Su-In



Novel ini hadiah giveaway dari Penerbit Baca yang saya ikuti di Instagram. Bersyukur sekali bisa terpilih dan mendapatkan novel yang diidam-idamkan. Terima kasih Penerbit Baca :) 


17. Langit Mengambil | Ika Natassa



Sampulnya cakep banget dan ini yang bikin saya pengen membaca kisahnya, Romansa ala Ika selalu ada-ada saja dan saya penasaran dengan isi buku ini.

Saya juga sudah beli 1 buku lagi untuk hadiah giveaway. Tungguin ya!


18. Angels & Demons | Dan Brown



Buku ini jadi awalan untuk mengikuti cerita The Da Vinci Code dan tanpa ragu lagi saya membeli buku ini biar bisa ikut berpetualang memecahkan misteri.


19. Lotus Taxi | Gen Kato

20. Lebih Dari Sekadar Cinta | Sefryana Khairil




21. Hei, Nak! | Reda Gaudiamo


Ini hadiah pas tukar kado di acara ulang tahun KBC. Sekilas sih ini buku yang isinya prosa atau puisi tapi isinya kayak ucapan menenangkan dari orang tua kepada anaknya. Pas dibaca untuk yang butuh pengingat.


***

Karena masih aja beli bukunya banyak, harapan bulan Februari ini saya bisa membaca beberapa bukunya agar mengurangi penyesalan karena masih menimbun banyak bacaan, huft :(

Nah, sekian dulu update Bebukuan untuk bulan Januari lalu. Semoga lancar jaya bisa membaca buku-buku TBR. Dan share dong buku apa saja yang kalian dapatkan di bulan Januari kemarin!



Januari 25, 2026

Buku Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene - Rita Triana Budiarti

[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]




Judul: Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene

Penulis: Rita Triana Budiarti

Foto: Timur Angin, Joen Ginting, Toto Prasetyanto, courtesy of Miles Film & KG Studio

Desain cover: emte

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit: Desember 2014

Tebal: 128 hlm.

ISBN: 9786020311616


Sempat ada di momen saya penasaran dengan film kolosal Pendekar Tongkat Emas tetapi karena kesempatan menontonnya belum ketemu, jadi saya iseng membaca buku behind the scene-nya saja.

Buku ini memuat semua proses yang dilakukan dalam pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Dimulai dari memutuskan ide cerita, lokasi, penulisan naskah, pemilihan para pemain, koreografi silat, desain artistik, kostum, tata rias, dan cerita selama di lokasi syuting.

Ternyata film ini berangkat dari nostalgia seorang Mira Lesmana pada bacaannya waktu kecil. Dia sempat mengembangkan naskah film kolosal yang diangkat dari komik silat tapi dengan pertimbangan matang Mira memutuskan membuat cerita baru yang tidak berkorelasi dengan cerita yang sudah ada. Kenapa tongkat emas yang dipilih juga dibocorkan di buku ini. Dan sutradara yang memegang film ini bukan Riri Riza, partner bikin film Mira Lesmana, melainkan Ifa Isfansyah. Detailnya baca aja ya!



Pemilihan Sumba sebagai lokasi syuting karena kebutuhan film menemukan lokasi yang masih alam banget. Hunting lokasi ke beberapa tempat indah terpotret dan Sumba sebagus itu lho. Dan ini memengaruhi pada pemilihan warna untuk kostum dan tata rias agar bisa baur dengan latarnya.

Film ini berhasil menggaet banyak bintang; Nicholas Saputra, Eva Celia, Christine Hakim, Reza Rahardian, Tara Basro, dan Aria Kusumah. Bagaimana mereka bisa bergabung terceritakan secara singkat di buku ini dan menarik sekali pertimbangan mereka.

Karena ini film silat, butuh ahli untuk membuat koreografi gerakannya. Dan tidak main-main, film ini mendatangkan Xiong Xin Xin, tokoh film dan penata koreografi dari Tiongkok. Para pemain pun digembleng silat beberapa bulan agar pada saat akting tidak kaku, apalagi harus melakukan gerakan-gerakan pertempuran yang tidak bisa asal-asalan.

Selama proses syuting, Sumba yang merupakan daerah tropis, alias jarang hujan dan kebanyakan panas, menguji ketahanan para pemain dan kru. Proses adaptasi yang dijalani pun cukup melelahkan. Membaca pengalaman pemain selama di lokasi syuting sangat menarik. 

Buku tipis ini semacam rekaman proses pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Pembaca dimanjakan betul dengan foto-foto yang indah. Tulisan yang menyertainya tak banyak jadi sebenarnya buku ini bisa dibaca tuntas dalam sekali duduk.



Setelah membaca buku ini, saya masih penasaran dengan filmnya. Tetapi jika mengikuti kata hati, kayaknya film Pendekar Tongkat Emas akan lebih dikenal masyarakat jika jadi series saja. Apalagi jika tayang di televisi, bisa jadi pilihan tontonan bagus untuk anak-anak agar nilai kepahlawan dan membela kebaikan bisa terajarkan. Seperti kehadiran film Wiro Sableng jaman dulu, dari sana penonton seperti saya seperti menemukan figur pahlawan baik lewat sosok pendekar.

Buku ini bisa menjadi bacaan singkat untuk pembaca yang penasaran bagaimana isi dari dunia perfilman lewat projek film Pendekar Tongkas Emas. Harapannya film-film lain juga membuat buku seperti ini karena menarik banget pas pembahasan ide ceritanya. Saya yakin setiap film itu punya latar belakang ide yang beda-beda dan ini pasti menarik dibahas.

Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku Pendekar Tongkas Emas Behind The Scene yang ditulis Rita Triana Budiarti ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!