[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]
Judul: Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir)
Penulis: Bex Hogan
Penerjemah: Rifky Ravanto Putra
Penerbit: M&C!
Terbit: Januari 2024
Tebal: 384 hlm.
ISBN: 9786230312557
Peringkat: 4 Bintang
Marianne bangkit dari kematiannya dan itu tanda kalau ia sudah genap jadi penyihir. Tujuannya kali ini adalah kembali ke Kepulauan Timur untuk menyelamatkan Torin dan meminta bantuannya untuk membentuk pasukan dalam rangka mempersiapkan perang besar melawan Gaius.
Pertemuannya dengan Born menjadi sangat kaku. Terasa ada jarak lebar yang membentang. Dan lebih membingungkan lagi ketika Marianne melihat sepupunya, Ravyn, yang menyukai Born juga. Pikiran buruknya, jangan-jangan selama ia tidak bersama Born, posisinya sudah digantikan Ravyn.
Untuk membentuk pasukan yang cukup besar butuh usaha yang sangat keras. Kondisi Kepulauan Timur yang sedang tidak baik-baik saja membuat rencananya sulit diwujudkan. Marianne mengajak Para Peramal untuk ikut bergabung namun ditolak. Akhirnya, pasukan yang ada dipersiapkan dengan lebih baik.
Rombongan Marianne kembali ke Kepulauan Barat. Dan kedatangannya ini disambut dengan banyak peristiwa tragis dan banyak kematian. Marianne beberapa kali merasa usahanya untuk melawan Gaius tidak akan berhasil karena sihir dalam tubuhnya susah dikendalikan.
Namun, ia tidak punya pilihan untuk mundur karena semakin Gaius kuat, maka semuanya akan mati.
Bagaimanakah perang besar antara dua penyihir ini akan berakhir?
***
Akhirnya buku ketiga dari series Isles Of Storm & Sorrow ini selesai dibaca juga. Penutup cerita yang bagus untuk mengakhiri perjalanan dan perjuangan gadis muda bernama Marianne.
Menurut saya di buku terakhir ini cerita mulai berpusat pada bagaimana Marianne mempersiapkan peperangan besar untuk mengalahkan Gaius. Selain mengumpulkan pasukan, dia juga fokus belajar menerima dirinya sebagai penyihir agar kekuatan itu bisa dikendalikan.
Dan pada fase ini, banyak sekali kematian yang disajikan. Emosi Marianne dibolak-balik tapi ia tidak punya waktu banyak untuk meratapi kesedihan karena ia pun sedang kejar-kejaran dengan waktu sebelum Gaius lebih dulu membantainya. Beberapa momen kehilangan itu membuat saya sedih juga karena saya kira tokoh-tokoh itu akan sangat berguna membantu Marianne dalam pertempuran terakhirnya.
Perkembangan romansa antara Marianne dan Born pun mulai digali lebih dramatis. Apalagi penulis menghadirkan orang ketiga, yaitu sepupu Marianne sendiri, Ravyn, sebagai ujian perasaan yang menghadirkan letupan-letupan cemburu.
Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Viper (Sang Penguasa Laut Timur)
Adegan ajaib dari ilmu sihir pun mulai banyak ditunjukkan seiring semakin bertambah kemampuan Marianne. Bahkan pada peperangan besar pun akhirnya sihir itu disajikan dengan epik.
Di sini pun ada kejutan tentang sosok yang dekat Marianne tapi menjadi pengkhianat. Motif yang cukup relevan dan penulis benar-benar halus sekali membuat pengkhianat ini bisa dideteksi.
Yang menurut saya kurang di novel ketiga ini adalah adegan perang besarnya kurang bombastis dan durasi penceritaannya kurang panjang. Adu sihirnya belum beragam dan saya tidak menemukan klimaks pertempuran yang membuat pembaca bisa berdebar-debar. Perang besarnya hanya disajikan dalam beberapa halaman saja padahal perang ini adalah puncaknya, harusnya penulis menceritakan dengan detail, berurutan, memberi peningkatan intensitas cerita, dan harusnya diakhiri dengan pertempuran yang berkali-kali. Sangat disayangkan sekali.
Secara keseluruhan, saya sangat menikmati bagian akhir dari perjuangan seorang Marianne. Series ini mengajarkan kita untuk tidak pantang menyerah dan mengingatkan tentang penerimaan diri atas berkat yang diberikan. Jika kita menerima diri sendiri dengan jujur, kemampuan terbaik kita akan muncul dengan sendirinya.
Baca juga: Novel Isles Of Storm & Sorrow: Venom (Permata dari Barat)
Nah, sekian jurnal baca saya untuk novel Isles Of Storm & Sorrow: Vulture (Kebangkitan Sang Penyihir) karya Bex Hogan ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

























