[ Ini bukan resensi, ini jurnal baca yang isinya kesan saya setelah baca bukunya. Semua yang ditulis adalah opini pribadi. Jika tidak berkenan, mari berdiskusi... ]
Judul: Pendekar Tongkat Emas Behind The Scene
Penulis: Rita Triana Budiarti
Foto: Timur Angin, Joen Ginting, Toto Prasetyanto, courtesy of Miles Film & KG Studio
Desain cover: emte
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Desember 2014
Tebal: 128 hlm.
ISBN: 9786020311616
Sempat ada di momen saya penasaran dengan film kolosal Pendekar Tongkat Emas tetapi karena kesempatan menontonnya belum ketemu, jadi saya iseng membaca buku behind the scene-nya saja.
Buku ini memuat semua proses yang dilakukan dalam pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Dimulai dari memutuskan ide cerita, lokasi, penulisan naskah, pemilihan para pemain, koreografi silat, desain artistik, kostum, tata rias, dan cerita selama di lokasi syuting.
Ternyata film ini berangkat dari nostalgia seorang Mira Lesmana pada bacaannya waktu kecil. Dia sempat mengembangkan naskah film kolosal yang diangkat dari komik silat tapi dengan pertimbangan matang Mira memutuskan membuat cerita baru yang tidak berkorelasi dengan cerita yang sudah ada. Kenapa tongkat emas yang dipilih juga dibocorkan di buku ini. Dan sutradara yang memegang film ini bukan Riri Riza, partner bikin film Mira Lesmana, melainkan Ifa Isfansyah. Detailnya baca aja ya!
Pemilihan Sumba sebagai lokasi syuting karena kebutuhan film menemukan lokasi yang masih alam banget. Hunting lokasi ke beberapa tempat indah terpotret dan Sumba sebagus itu lho. Dan ini memengaruhi pada pemilihan warna untuk kostum dan tata rias agar bisa baur dengan latarnya.
Film ini berhasil menggaet banyak bintang; Nicholas Saputra, Eva Celia, Christine Hakim, Reza Rahardian, Tara Basro, dan Aria Kusumah. Bagaimana mereka bisa bergabung terceritakan secara singkat di buku ini dan menarik sekali pertimbangan mereka.
Karena ini film silat, butuh ahli untuk membuat koreografi gerakannya. Dan tidak main-main, film ini mendatangkan Xiong Xin Xin, tokoh film dan penata koreografi dari Tiongkok. Para pemain pun digembleng silat beberapa bulan agar pada saat akting tidak kaku, apalagi harus melakukan gerakan-gerakan pertempuran yang tidak bisa asal-asalan.
Selama proses syuting, Sumba yang merupakan daerah tropis, alias jarang hujan dan kebanyakan panas, menguji ketahanan para pemain dan kru. Proses adaptasi yang dijalani pun cukup melelahkan. Membaca pengalaman pemain selama di lokasi syuting sangat menarik.
Buku tipis ini semacam rekaman proses pembuatan film Pendekar Tongkat Emas. Pembaca dimanjakan betul dengan foto-foto yang indah. Tulisan yang menyertainya tak banyak jadi sebenarnya buku ini bisa dibaca tuntas dalam sekali duduk.
Setelah membaca buku ini, saya masih penasaran dengan filmnya. Tetapi jika mengikuti kata hati, kayaknya film Pendekar Tongkat Emas akan lebih dikenal masyarakat jika jadi series saja. Apalagi jika tayang di televisi, bisa jadi pilihan tontonan bagus untuk anak-anak agar nilai kepahlawan dan membela kebaikan bisa terajarkan. Seperti kehadiran film Wiro Sableng jaman dulu, dari sana penonton seperti saya seperti menemukan figur pahlawan baik lewat sosok pendekar.
Buku ini bisa menjadi bacaan singkat untuk pembaca yang penasaran bagaimana isi dari dunia perfilman lewat projek film Pendekar Tongkas Emas. Harapannya film-film lain juga membuat buku seperti ini karena menarik banget pas pembahasan ide ceritanya. Saya yakin setiap film itu punya latar belakang ide yang beda-beda dan ini pasti menarik dibahas.
Nah, sekian jurnal baca saya untuk buku Pendekar Tongkas Emas Behind The Scene yang ditulis Rita Triana Budiarti ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!











%20Pengantin%20Baru%201.jpg)

%20Pengantin%20Baru%202.jpg)






.jpg)

