Resensi Novel Tuhan Maha Romantis - Nurunala

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]



Judul: Tuhan Maha Romantis

Penulis: Nurunala

Editor: Trian Lesmana

Penerbit: Grasindo

Terbit: Juli 2023

Tebal: 200 hlm.

ISBN: 9786020530208

Tag: romansa, religi

Sinopsis

Setelah lima tahun berlalu, Rijal dan Laras kembali bertemu di acara bebukuan. Rijal kini sudah jadi penulis. Laras sengaja menempuh perjalanan dari New Zealand ke Indonesia untuk menemuinya. 

Pertemuan mereka penuh perasaan campur aduk. Kenangan waktu kuliah dulu kembali menyeruak. Termasuk perasaan suka yang selama ini diendapkan oleh keduanya karena agama mengaturnya. Rijal seperti menemukan kebahagian yang sudah lama menghilang. Namun Laras menemukan cincin dijari Rijal yang artinya kepulangannya ke Indonesia akan jadi sia-sia. Rijal sudah bertunangan, itu faktanya.

Mungkinkah takdir kali ini mengatur keduanya bersatu? Atau keduanya harus belajar mengikhlaskan perasaannya melebur?



Resensi

Nurunala adalah penulis yang kalau menerbitkan buku saya pasti usahakan akan membelinya. Sebelum membaca novel ini saya sudah membaca novel lainnya: Festival Hujan, Janji Untuk Ayah, dan Seribu Wajah Ayah

Yang membuat saya suka dengan karya-karya penulis karena novel-novelnya mengangkat tema keluarga terutama tentang sosok Ayah. Saya tipikal orang yang gampang banget terharu kalau membaca kisah soal orang tua. 


Masa Lalu Yang Datang Lagi Pada Waktu Yang Tidak Tepat

Siapa sih yang enggak senang saat kembali bertemu dengan orang yang pernah kita sayang. Begitu juga dengan Rijal yang akhirnya bertemu lagi dengan Laras setelah lima tahun tidak ada kabar. Perasaan suka kembali berkembang dan ternyata tidak berubah walaupun sudah lama tidak jumpa. Rijal berharap besar kali ini perasaannya akan tersampaikan.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar, pasti ada banyak hal yang sudah berubah. Rijal sudah jadi penulis. Rijal juga sudah bertunangan dan seminggu lagi bakal menikah. Fakta ini yang membuat Laras meredam semua harapannya. 

Konflik ini yang mencoba digali penulis lebih dalam. Dan karena novel-novel penulis selalu memiliki dasar agama islam, saya semakin penasaran bakal dikasih jalan keluar apa untuk kepelikan situasi yang dihadapi Rijal dan Laras.


Sisi Romantis Dari Keluarga Harmonis

Di novel ini juga digambarkan latar belakang keluarga Rijal yang bikin saya mengakui kalau, "Siapa orang tua kita juga turut menentukan siapa kita." Ayahnya Rijal adalah kepala sekolah, ibunya adalah guru bahasa inggris. Sudah pasti pendidikan jadi hal penting yang diajarkan mereka kepada anak. Dan bukan soal sisi intelektual saja yang diajarkan, tetapi sisi moral dan nilai religi juga dipenuhi mereka.

Rijal tumbuh jadi pemuda yang baik dan santun karena besar dalam keluarga yang harmonis. Kedekatannya dengan sosok ayah membuat saya iri. Dia bisa curhat dan meminta solusi kepada ayahnya untuk hal-hal yang rasanya susah dilakukan anak laki-laki kepada ayahnya seperti asmara. Pendapat saya ini karena saya bukan salah satunya yang bisa begitu. 

Karena latar belakang orang tua Rijal sebagai pendidik, keduanya pun begitu dihormati di lingkungan sekitar. Terutama oleh mereka-mereka yang pernah diajar oleh orang tua Rijal. Kebaikan yang dilakukan orang tua Rijal banyak membantu di kemudian hari. Misalnya saat ibunya Rijal pingsan, Teh Zaenab yang seorang bidan membantu mengurus agar siuman. Dan saat mau diberikan bayaran, Teh Zaenab menolak dengan santun karena ia pernah merasakan kebaikan dari orang tua Rijal.


Dinamika Masa Perkuliahan

Kehidupan perkuliahan lumayan banyak dibahas di sini. Menggunakan sudut pandang Rijal, kita diajak ikut bagaimana ia berkenalan dengan kawan baru, bertemu pertama kali dengan gadis pujaan, dan terlibat dalam kegiatan jurusan yang lumayan menyita waktu.

Saya sangat suka dengan penggambaran kegiatan Petang Puisi. Dimana setiap jurusan berlomba membawakan deklamasi puisi secara kreatif dengan menggabungkan dekorasi dan musik-musik latar. Dan gara-gara novel ini, saya jadi tahu puisi berjudul Sajak Pertemuan Mahasiswa karya W.S. Rendra. Puisi yang menyinggung dan menggugat soal wakil rakyat di pemerintah yang membuat kebijakan-kebijakan tapi tidak mewakili rakyat.


Keputusan Jodoh Yang Membuat Kesal

Dari beberapa novel penulis yang saya baca, ending novel ini yang paling tidak saya suka. Mungkin buat beberapa orang kelihatan romantis tapi buat saya itu miris. Saya yakin kalau tidak spolier pun, pembaca bakal tahu ending kisah Rijal dan Laras ini dari sampul novelnya yang sederhana tapi cantik dengan perpaduan warna biru di langit dan hamparan hijau rerumputan.

Tinggal menghitung hari akan menikah tapi dibatalkan, itu yang bikin saya kurang suka dengan keputusan ini. Rasanya membatalkan pertunangan bukan perkara mudah karena ini melibatkan perasaan dan nama baik keluarga besar. Ini pertunangan dan bukan pacaran. Kabar pernikahan sudah menyebar kemana-mana lho. Si pihak laki-laki harus bertanggung jawab kepada keluarga si perempuan. Dan yang lebih tidak saya sukai, yang menyampaikan pembatalan ini hanya ibunya saja. Si laki-laki justru sibuk mempersiapkan keberangkatannya ke luar negeri mengejar cinta pertamanya. Gila nggak sih keputusan ini!!!


Kita mencintai seseorang karena kita memilih untuk mencintainya. Rasa yang indah ini memang anugerah Allah, tapi diri sendirilah yang memegang kontrol penuh atas perasaan yang membuncah dalam dada. (hal. 91)

Mungkin ada yang berpendapat, "Daripada menikahi perempuan yang tidak dicintai dan tidak bahagia, bukankah lebih baik sejak dini diakhiri." Saya setuju dengan ini tapi kenapa kalau belum move on dari masa lalu harus melakukan lamaran kepada perempuan lain. Padahal di sini Rijal tidak dalam kondisi terdesak untuk melakukan itu. Dan saat dia memutuskan untuk melamar perempuan lain artinya dia siap menerima tanggung jawab itu. 

Sebelum kehadiran Laras, hubungannya dengan Aira baik-baik saja. Hanya karena Laras kemudian datang, niat menikah tergerus juga. Harusnya sikap pria enggak begini kan?

Keberatan saya lainnya, saya tidak menemukan nilai luar biasa dari seorang Laras yang kemudian diperjuangkan sebegitunya oleh Rijal. Rijal menyukai Laras karena cantik, solehah, dan baik. Tapi ini juga ada di diri Aira, tunangannya. Aira malah lebih banyak berinteraksi dengan Rijal dan ibunya dibandingkan Laras. Lalu yang membuat timbangan Laras lebih besar untuk dipilih ketimbang Aira itu apa, penulis tidak memberikan itu sehingga saya simpulkan kalau Rijal berjuang hanya karena Laras cinta pertama. Ini jadi pilihan ending novel yang dangkal buat saya. 


Simpulan

Romansa yang berdiri di atas agama selalu menginspirasi. Sosok Rijal jadi gambaran teladan bagaimana pria bersikap saat pertama kali merasakan jatuh cinta kepada lawan jenis. Terlepas dari ending novel yang mengecewakan, novel ini punya nilai-nilai moral yang secara penyampaian tidak menggurui. Novel ini saya rekomendasikan untuk pembaca muda sebagai pengingat kalau romantis itu bukan melulu dengan pacaran.

Sekian ulasan saya untuk novel Tuhan Maha Romantis. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

***


  • Soal kebahagiaan, seringkali yang lebih penting bukan sedang apa atau di mana, melainkan dengan siapa. (hal. 18)
  • Kita harus selalu menjaga api optimisme tetap menyala. Harapan, yang akan membikin kita punya kemauan untuk terus bergerak. Kadang, masalahnya bukan di 'mampu atau tidak mampu', tapi 'mau atau tidak mau'. (hal. 19)
  • Dan sebaik-baik ilmu adalah yang membuat kita semakin dekat sama Allah (hal. 20)
  • Setiap perpisahan, seikhlas apa pun kita menerimanya, selalu saja menyisakan kehampaan (hal. 21)
  • Esensi dakwah adalah menjadikan kesalehan pribadi menjadi kesalehan kolektif atau kesalehan masyarakat. Oleh karena itu, yang enggak kalah penting dari menjadi hebat adalah menghebatkan sekitar kita. (hal. 28)
  • Ada dua hal yang membuat kita hari ini berbeda dengan kita bertahun-tahun yang akan datang: buku yang kita baca dan orang-orang yang kita temui. Buku yang kita baca akan membentuk pola pikir kita, orang-orang terdekat kita akan membentuk karakter kita. (hal. 67)
  • Satu-satunya cara menghilangkan rasa takut adalah dengan menghadapinya (hal. 68)
  • Pemberani itu adalah orang yang takut juga sebenarnya, tapi tetap melakukannya (hal. 73)
  • Kadang kita perlu mengabaikan kalimat-kalimat negatif yang menghampiri kita, bahkan ketika teriakan itu diucapkan oleh diri kita sendiri. (hal. 74)
  • Mencintai itu, bukan cuma soal rasa suka atau ketertarikan. Bukan cuma soal kekaguman. Lebih dari itu, mencintai itu sebuah keputusan. Keputusan besar. (hal. 115)
  • Bukankah perjuangan dan pengorbanan adalah satu keniscayaan bila kita ingin menggapai kebahagiaan. (hal. 119)

Resensi Novel Lelaki Tua Dan Laut - Ernest Hemingway

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul: Lelaki Tua Dan Laut

Penulis: Ernest Hemingway

Penerjemah: Yuni Kristianingsih Pramudhaningrat

Penerbit: PT Serambi Ilmu Semesta

Terbit: Januari 2015, cetakan pertama

Tebal: 139 hlm.

ISBN: 9786022900283


SINOPSIS

Lelaki tua itu bernama Santiago. Sudah delapan puluh empat hari dia memancing di lautan tapi belum menangkap seekor ikan pun. Empat puluh hari pertama dia ditemani anak lelaki bernama Manolin, namun Manolin harus pindah kapal karena diperintah orang tuanya. 

Suatu hari si Lelaki Tua itu kembali memancing tapi kali ini nasib buruknya diakhiri. Kailnya menyangkut pada ikan besar. Karena sudah tua dan hanya punya alat seadanya, Santiago berjuang mati-matian agar ikan itu tidak lepas. Tali pancing yang terulur kadang harus dikendorkan atau ditegangkan sampai-sampai melukai bahu, punggung, dan telapak tangannya.

Karena ukurannya yang gede, ikan yang akhirnya bisa ditangkap itu sulit dibawa dengan perahu kecilnya. Yang lebih mendebarkan lagi, setelah perjuangan keras menangkapnya, ikan itu kini jadi sasaran ikan-ikan hiu beraneka nama yang setiap saat bisa saja memakannya. 

ULASAN

Saya akui kalau membaca novel klasik itu rada-rada susah walau pun ceritanya sederhana dan gampang diikuti. Tapi bisa jadi bukan karena novelnya, saya merasa setiap kali mulai membaca buku ada perasaan harus teliti pada detail-detailnya sehingga hati saya kurang peka untuk merasakan hawa-hawa novelnya.

Novel ini juga pernah mengalami hal serupa. Dulu pernah coba dibaca tapi selalu mandeg. Akhirnya kali ini saya benar-benar ingin menikmati ceritanya dan alhamdulillah bisa berhasil tuntas dibaca walau pelan-pelan sekali.

Novel ini sangat menggugah. Kita diperlihatkan bagaimana perjuangan lelaki tua dengan memiliki keterbatasan seperti usia dan tenaga, harus berjuang sendirian menangkap ikan besar yang sudah menyangkut di kail pancing. Prosesnya benar-benar beda dengan orang memancing di sungai yang ukuran ikannya kecil-kecil. 

Karena ikannya besar, lelaki tua itu tidak punya banyak pilihan. Jika talinya ditarik kuat-kuat, bisa jadi ia yang akan ditarik oleh ikan ke laut karena saking kuatnya ikan tersebut. Dan pilihannya, lelaki tua itu memilih mengikuti setiap pergerakan ikan membawanya. Alhasil, ia terombang-ambing di lautan luas.

Kekurangan air dan makan daging ikan mentah jadi perjuangan lainnya. Lelaki tua itu mau tidak mau harus makan ikan mentah agar ia tetap punya tenaga. Niatnya mendapatkan ikan tersebut dan pulang. Jika tidak mengisi tenaga, bisa jadi ia akan mati di kapal karena kelaparan dan selamanya tidak akan kembali ke pelabuhan.

Kewarasan pikiran juga harus dijaga. Sendirian di tengah laut sambil mempertahankan tangkapannya agar tidak lepas jadi ujian berat untuk mental. Lelaki tua itu yang jarang bicara lantang, kini sering berdialog sendirian dengan suara kencang. Ia tidak malu ucapannya didengar orang lain. Dan teknik ini ampuh membuat pikirannya tetap normal dan jernih.

Akhir kisah si lelaki tua itu bikin terharu. Saya bisa ikut merasakan kelegaan ketika akhirnya ia tiba di pelabuhan dengan badan yang gemetaran. Ini jadi pengalaman membaca yang mengharukan hati. Persis rasanya sama ketika dulu saya membaca novel 5cm saat tokoh-tokohnya naik ke puncak. Emosi, keterharuan, kelegaan, dan rasa lelah campur aduk dan semua campuran rasa itu bisa sampai ke hati saya sebagai pembaca. 

Buku ini tipis tapi saya tidak bisa menyelesaikan dalam sekali duduk. Isinya dominasi narasi. Jarang banget percakapan. Maklum, Santiago ini memancing di lautan tanpa kawan. Adanya monolog saat dia ngomong sendiri dengan lantang atau saat dia berdialog dengan hati dan pikirannya. Format ini memaksa saya lebih serius meresapi kalimat-kalimatnya.

Secara keseluruhan, novel klasik ini sangat menarik dan memang patut dibaca setidaknya sekali seumur hidup. Mengajarkan perjuangan dari sudut pandang laki-laki. Si lelaki tua ini bisa jadi gambaran kalau kita akan berada di posisi sama, berjuang mati-matian, yang berbeda hanya zaman dan tantangan yang dihadapi. Mengajarkan mental kuat juga. 

Nah, sekian ulasan novel Lelaki Tua Dan Laut ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Bebukuan Februari 2025


Halo!

Sudah memasuki bulan Maret saja ya. Dan sebelum membahas bebukuan selama bulan Februari, saya mau mengucapkan selamat menunaikan puasa bagi yang sedang menjalankan. Semoga puasa tahun ini lancar dan penuh berkah. Amin ya Rabb!

Seperti biasa, setiap awal bulan, saya akan membuka dengan artikel Bebukuan. Artikel ini semacam ringkasan kegiatan saya selama sebulan kemarin perihal bebukuan. Dan berikut ini ringkasan Bebukuan Februari 2025:

Bacaan Februari 2025

Semangat ingin baca buku ini dan itu tetapi bulan kemarin saya dikejar deadline bikin laporan keuangan dan bakal lanjut audit yang ujungnya pelaporan SPT Tahunan Badan. Kalian pasti tahu saya kerja di divisi apa. Alhasil, bacaan saya enggak banyak. Tapi masih mending ya bisa ada bacaan yang selesai, hehe.

Berikut buku-buku yang saya baca bulan kemarin:

1. Janji Untuk Ayah oleh Nurunala

2. Tiga Permintaan Dan Cerita-Cerita Lain oleh Enid Blyton

3. Mata Yang Enak Dipandang oleh Ahmad Tohari


Koleksi Februari 2025




1. Tuhan Maha Romantis oleh Nurunala

Ini buku keempat penulis Nurunala yang saya dapatkan. Lainnya yang sudah saya punya adalah Seribu Wajah Ayah, Festival Hujan, Janji Untuk Ayah, dan Jangan Dulu Patah. Saya sangat suka dengan kisah-kisah yang disajikan penulis karena sebagian besar temanya drama keluarga dan kebanyakan sangat menyentuh hati. Nilai agama islam pun selalu disisipi sebagai hikmah dari kisahnya. Gara-gara ini saya akhirnya mengikuti karya-karya beliau.

Untuk novel ini saya penasaran hubungan romantis seperti apa yang akan dijalin penulis dan hikmah apa yang bakal disampaikan ke pembaca. 

2. Stand By Me 1 & 2 (light novel) oleh Fujiko F Fujio, Takashi Yamazaki

3. Detektif Conan: Full Score of Fear (light novel) oleh Gosho Aoyama, Shima Mizuki

Awalnya saya tidak tahu istilah light novel itu apa, tetapi setelah cari tahu rupanya ini istilah untuk komik yang disajikan layaknya novel. Bukan berisi gambar-gambar lagi melainkan sudah dikonversi jadi susunan kata-kata. 

Sejauh ini yang pernah saya baca itu novel yang diangkat dari film seperti Novel Wonderful Life karya Kiki Raihan. Penasaran sih bagaimana serunya komik diubah jadi novel. Dan sebagai perkenalan light novel, saya memilih judul komik terkenal yaitu Doraemon dan Detektif Conan. Semoga bisa jadi pengalaman yang menyenangkan.

Rencana Baca Maret 2025

Oya, saya minta maaf untuk bulan ini dan seterusnya bagian Rencana Baca tidak akan saya masukkan ke artikel Bebukuan karena membaca buku yang diatur itu lumayan membebani, padahal seharusnya membahagiakan dan menyenangkan. Kadang dari 5 buku yang direncanakan, mood saya tidak bisa diatur agar hanya membaca buku tersebut. Lebih sering saya memilih bacaan yang lain. Karena itu saya ingin membebaskan diri memilih buku mana yang akan dibaca. Saya mengedepankan prinsip happy reading

***

Nah segitu dulu update Bebukuan Februari 2025. Semoga bulan Maret 2025 diberi kesempatan membaca lebih seru dan lebih menambah nilai diri karena berbarengan dengan momen bulan Ramadhan.

Jadi, buku apa saja yang kalian baca dan dapatkan bulan Februari kemarin? Share di kolom komentar ya.