[WTP] Unboxing Semesta Buku Gramedia



Halo, apa kabar, Ges?

Apa itu WTP? WTP itu singkatan dari Waktunya Tuk Pamer. Biasalah, kalau mendapatkan buku baru, baik hasil beli atau dikasih, pengennya pamer buat teman-teman sesama pembaca buku. Biar pada iri, wkwkwk.

Dan kali ini saya mau unboxing buku-buku yang saya beli di acara Semesta Buku Gramedia yang masih digelar hingga tanggal 31 Juli 2024.

Tahun kemarin acara Semesta Buku diadakan di beberapa toko Gramedia secara offline. Dan tentu saja untuk yang di daerahnya tidak kebagian Semesta Buku, biasanya berburunya lewat para agen Jastip. Saya beruntung bisa mampir karena berbarengan jadwalnya dengan pelatihan pajak yang diadakan di Jakarta. Usai beres pelatihan langsung meluncur ke Gudang Kompas. Cuman lupa waktu itu beli berapa buku. Tetapi kesan berkunjung waktu itu lumayan kurang menyenangkan. Selain areanya yang sempit, di ruangan pun panasnya poll. Jadi yang harusnya bisa keliling membongkar tumpukkan buku, saya menyerah dan memilih ambil cepat saja.

Tahun ini bisa dibilang kemewahan sih sebab acara Semesta Buku diadakan secara online juga. Digelar di Shopee, Tokopedia, bahkan di website www.gramedia.com.

Tentu saja saya tidak mau melewatkan momen ini. Akhirnya saya berburu di ketiga akun tadi. Diskonnya gede sampai 70%. Tetapi buku-buku yang bagus-bagus memang yang diskonnya 50%. 

Lupa lho kapan terakhir Gramedia kasih diskon segede itu.


Dan inilah hasil perburuan saya di acara Semesta Buku Gramedia:

1. Semua Ikan di Langit karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie



Dulu pernah punya buku ini tapi karena keuangan waktu itu tidak baik-baik saja, mau tidak mau buku ini saya jual. Alhamdulillah, di acara kali ini bisa beli lagi. Buku ini saya beli di website www.gramedia.com dengan diskon 50%.

Menguntungkannya beli di website, kita bisa pick up di toko terdekat dengan kita. Jadi tidak perlu ada ongkir-ongkiran dan tidak perlu menunggu lama untuk bisa pegang bukunya.


2. Kupikir Segalanya Akan Beres Saat Aku Dewasa karya Kim Haenam & Park Jongseok



Sebelumnya saya pernah baca beberapa halaman awal buku ini di perpustakaan online. Tetapi saya masih belum nyaman melakukan baca buku di gawai, alhasil tidak melanjutkan membacanya. Begitu tahu buku ini masuk ke jajaran diksonan Semesta Buku Gramedia, saya langsung niat beli.

Masalahnya, saya malas balik lagi ke toko Gramedia yang ada di Jalan Cipto Cirebon karena kemarin sore sudah mampir ke situ buat ambil buku Semua Ikan di Langit. Akhirnya saya memilih beli di akun Shopee. 

Yang menguntungkan beli di shopee, karena saya punya tabungan koin, jadi saya pakai juga buat bayarnya. Akhirnya saya bisa beli dengan harga lebih rendah lagi dong.


3. Membunuh Commendatore jilid 1 & 2 karya Haruki Murakami



Saya yang sedang menyelesaikan membaca buku 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami, kepalang terpincut dengan cerita dan gaya tulisannya. Dan saat tahu buku beliau yang ini masuk juga didiskon 50%, saya langsung beli di akun Tokopedia.

Sempat muncul kekhawatiran pesanan saya bakal dibatalkan, seperti cerita-cerita teman di klub buku, tetapi bersyukur sekali kedua bukunya terkirim dengan aman hingga ke tangan saya. 

***


Nah, itu buku-buku yang saya borong di acara Semesta Buku Gramedia yang bawa diskon gede. Saya berharap ke depannya pun bakal ketemu acara begini yang diskonnya enggak tanggung-tanggung.

Jadi, buku apa saja yang sudah kalian beli di acara Semesta Buku Gramedia? Share dong di kolom komentar, siapa tahu bisa jadi wishlist saya ke depannya.



Resensi Buku Happiness Without Money - Koike Ryunosuke

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]


Judul:
Happiness Without Money

Penulis: Koike Ryunosuke

Penerjemah: Yuditha Savka

Penyunting: Yoke Yuliana

Penerbit: M&C! (PT Gramedia Pustaka Utama)

Terbit: Mei 2021, cetakan pertama

Tebal: iii + 149 hlm.

ISBN: 9786230305061


Buku Happiness Without Money ini membahas soal bagaimana kita bisa meraih kebahagiaan dengan cara menggunakan uang secara tepat. Walau judul buku ini ada kata 'tanpa uang', penulis justru mengingatkan jika kita mustahil mengejar kebahagiaan tanpa menggunakan uang. Koike sendiri adalah seorang biksu yang menjalankan hidup sederhana, namun sederhana itu bukan tanpa uang melainkan menggunakan uang untuk hal tepat dengan cara yang tepat.

Pembahasan pertama di buku ini mirip dengan pembahasan di buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang ditulis Marie Kondo. Soal kepemilikan barang. Semakin banyak barang yang kita miliki, semakin hidup kita tidak bahagia. Memiliki benda berarti paling sedikit ada dua tanggung jawab yang menempel ke pemiliknya; menjaga agar tidak hilang (ketakutan) dan merawatnya (kewajiban). Dan semakin banyak benda yang dipunya, semakin banyak pula ketakutan dan kewajiban tadi. Solusi untuk kepemilikan benda ini adalah dengan membuangnya. Jangan bingung, di bab awal buku ini akan diberikan tips membuang barang agar kita tidak begitu menderita dalam prosesnya.

Ada alasan kenapa kita bisa mempunyai banyak barang yaitu karena kita serakah. Sifat serakah ini ternyata punya asal yaitu keinginan. Dan penulis menyebut jika keinginan itu bentuk dari penderitaan. Karena kita merasa menderita, kita berusaha mati-matian untuk meredakan penderitaan itu dengan memenuhi keinginan tadi. Bahayanya, keinginan manusia itu tidak terbatas. Setelah keinginan standar dipenuhi, muncul keinginan baru yang lebih besar, bahkan seiring waktu bisa menginginkan sesuatu lebih ekstrim. Dan kunci menuju kebahagiaan yang utama adalah memotong keinginan tadi menjadi sewajarnya.

Ada istilah 3D Keserakahan yaitu demand, desire, dan drive. Perubahan dari kebutuhan menjadi dorongan ini yang membuat kita dibutakan oleh banyaknya keinginan.


Kebanyakan orang awalnya  menginginkan sesuatu karena membutuhkannya. Dengan kata lain, "demand". Namun, rasa kebutuhan itu semakin menyimpang dan mereka menginginkan jeda "derita senang" yang lebih besar sebelum kemudian perlahan-lahan menjadi semakin ketagihan oleh stimulasi "derita". Ini adalah desaire, keinginan. Kemudian, desire itu semakin menyimpang dan akhirnya mereka dikendalikan total oleh "derita" sehingga akhirnya menjadi drive, dorongan yang tidak bisa dikendalikan. (hal. 44).


Menurut penulis ada 3 sikap yang bisa dilakukan atas sifat keserakahan yaitu:

  1. Merealisasikan sesuai keinginan.
  2. Melarikan diri dan menggantinya dengan rangsangan keinginan lain.
  3. Menekan rasa ingin tersebut.

Penjelasan ketiga sikap ini akan dikupas di bukunya. Pembahasannya benar-benar menarik, apalagi diberikan contohnya juga.


Yang paling menyentil saya adalah soal habbit saya yang suka membeli novel baru hanya karena ingin, padahal novel itu entah akan dibaca atau enggak di masa depan. Novel yang menumpuk secara samar-samar menimbulkan penyesalan walau saya alihkan dengan dalih kalau buku itu sesutau yang positif. Kasus ini bisa jadi contoh kebahagiaan semu sebab di dalam hati paling mendalam menimbun novel bukannya membuat bahagia secara penuh tetapi justru menimbulkan rasa negatif yang kemudian ditutup-tutupi.

Saya paling suka dengan bab empat yang berisi Cara Menggunakan Uang Agar Menjadi Bahagia. Di sini ditegaskan kalau penjelasan buku ini bukan mendorong orang untuk pelit. Ketika kita bersikap pelit, kita sebenarnya sudah memutuskan untuk tidak bahagia sekali pun ujungnya kita bisa menumpuk uang. Penulis justru lebih senang jika kita membuang uang dengan cara memberikan hadiah kepada orang lain karena tindakan ini akan membikin kita merasa lega.

Gara-gara membaca buku ini saya pun termotivasi untuk lebih bisa mengendalikan uang di lingkaran keinginan yang tak berujung. Harus bisa membuat prioritas antara kebutuhan dan keinginan. Tujuannya tentu saja kita harus bisa bahagia ketika sedang ada uang, dan tetap baik-baik saja ketika tidak punya uang.

Berikut beberapa kutipan-kutipan menarik di buku ini:

  • Bagaimana pendapat orang lain mengenai kita atau bagaimana orang lain melihat kitalah yang menyebabkan lahirnya penderitaan tersebut (hal. 11).
  • Menjadi pelit saat tidak punya uang dan tiba-tiba menjadi bermewahan saat memiliki uang banyak itu yang namanya dipermainkan uang dan hati kita akan lelah (hal. 121).
  • Orang modern semuanya memiliki penderitaan berupa kesepian dan untuk menyembuhkannya, mereka membuang uang dan waktu untuk telepon genggam dan media sosial (hal. 128)

Saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca siapa pun untuk bahan reminder kita soal uang. Dan sekian ulasan saya untuk buku ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!



[ Saking sukanya dengan isi buku ini saya berencana membaca ulang dan tentu saja ulasan ini akan saya update dengan insight baru dari bacaan ulang nanti ]

Resensi Novel Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia - Clara NG

[ Ulasan di bawah ini adalah kesan pribadi saya setelah membaca bukunya. Semua poin berdasarkan penilaian sendiri sesuai selera pribadi. Terima kasih. ]




Judul:
Mao Mao & Berang-Berang: Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia

Penulis: Clara NG

Penyunting: Arif Koes Hernawan & Dhewiberta H.

Ilustrasi sampul & isi: Larasita Apsari & Jarikecil

Penerbit: Penerbit Bentang

Terbit: April 2023, cetakan pertama

Tebal: vi + 246 hlm.

ISBN: 9786231860804



Mao Mao adalah bebek yang terlahir berbeda dibandingkan bebek lainnya. Kepalanya besar. Bulunya berwarna ungu magenta. Perbedaan itu yang membuatnya sering dijahili dan diolok-olok. Beruntung dia diasuh oleh Uni, induk bebek yang baik dan bijaksana, yang menyayanginya sepenuh hati. Dan Mao Mao baru tahu rahasia tentang siapa ibunya saat ia sudah remaja.

Mao Mao menjadi sosok yang serba ingin tahu, blak-blakan, dan keras kepala. Pertanyaan-pertanyaannya kerap menyusahkan bebek dewasa. Termasuk tentang kenapa bebek bermigrasi secara gerombolan? Apa tidak bisa bebek-bebek itu bermigrasi sendiri-sendiri?

Demi membuktikan kalau dia bisa pergi ke Danau Tak Bertepi sendirian, Mao Mao belajar terbang. Tak lama setelah ia bisa terbang, Mao Mao meninggalkan Negeri Anyaman menuju Danau Tak Bertepi.

Perjalanan Mao Mao melintasi banyak kerajaan. Dia bertemu banyak binatang lain. Dia belajar banyak hal. Sampai akhirnya Mao Mao menemukan apa yang ia mau bersama Berang-Berang.

***



Saya sebenarnya ingin menyebut novel dengan karakter binatang ini sebagai buku anak tetapi agak berat juga sebab di ujung kisah Mao Mao akan disisipkan cerita romantis. Tema petualangan yang sejak awal buku dikenalkan ke pembaca, ambyar juga di ujungnya. Novel ini tampaknya akan pas dibaca oleh remaja, persis seperti Mao Mao yang sudah tumbuh jadi remaja.

Sebagai cerita petualangan, saya suka dengan kerajaan-kerajaan yang disinggahi Mao Mao. Setiap kerajaan punya kekhasan sendiri. Misalnya Kerajaan Asap digambarkan sebagai wilayah industri yang dipenuhi asap dan limbah. Membayangkannya saja sudah bikin sesak. 

Kerajaan Keramik yang kemudian disinggahi Mao Mao seperti wilayah Arab, yang tandus dengan bentuk bangunan yang khas. Kalau di Arab bangunannya berbetuk kotak, kalau di Kerajaan Keramik berbentuk silinder. Dan kerajaan-kerajaan lainnya pun memiliki ciri yang membuatnya berbeda dibandingkan kerajaan lainnya.

Unsur magic pun akan kita temukan di cerita Mao Mao ini. Yang paling kentara banget adalah kehadiran Rusa yang selalu siaga ketika Mao Mao dalam situasi kesusahan. Saya tidak tahu karakter Rusa ini sebagai apa sebenarnya, tetapi kehadiran dan jasanya itu sudah seperti malaikat saja.

Sebagai cerita dengan tokoh hewan, kita akan menemukan banyak sekali hewan-hewan lain yang meramaikan kisahnya. Sayangnya, saya tidak menemukan kedalaman karakternya kecuali tokoh Rusa, Monyet, dan Berang-Berang. Yang lainnya terlupakan begitu saja.

Secara alur cerita, apa yang dilakukan Mao Mao sebagai pembuktian diri, tidak cukup mengesankan ketika sudah terwujud di bagian kisah akhirnya. Saya menangkap cerita ini bukan soal membuktikan diri melainkan cerita tentang mencari jati diri. 

Lika-liku yang dilalui Mao Mao dalam perjalanannya membuat dia memahami apa yang ia mau. Dan tentu saja keputusan yang dipilih Mao Mao berdasarkan kebahagiaan. Demi menuju pembelajaran itu, kita akan disuguhkan lebih dulu drama Mao Mao yang frustasi karena sayapnya patah. Pada bagian ini memang menyedihkan.

Secara keseluruhan, saya suka dengan buku ini tapi belum begitu mengesankan. Saya belum siap saja membaca cerita hewan yang terlalu panjang. Karena biasanya cerita hewan itu tidak serumit dan sepelik yang dialami Mao Mao. Kalau saja cerita ini diwakili oleh tokoh manusia, rasanya pasti akan berbeda. Mungkin akan lebih bisa relate dalam memahami emosi dari tokoh-tokohnya.

Sekian ulasan saya untuk novel ini. Terakhir, jaga kesehatan dan jangan lupa membaca buku!

Bebukuan Juni 2024


Halo! Apa kabar?

Kali ini saya membuat artikel Bebukuan ini terlambat sekali. Sebenarnya tulisan ini sudah dibuat dari awal bulan tetapi saya belum sempat memfoto buku-buku yang disebutkan di sini. Alhasil, tulisan ini terlambat dipublikasikan.

Di luar alasan keterlambatan tadi, saya tetap mempublikasikan artikel ini untuk menjaga konsistensi. Dan semoga buku-buku yang saya sebutkan di setiap Bebukuan bisa jadi referensi bacaan untuk pengunjung blog ini. 

Prolognya enggak akan panjang-panjang, langsung saja berikut ini adalah Bebukuan Juni 2024:

Bacaan Juni 2024

Rencana buku yang akan dibaca pada bulan Juni 2024, yang saya tuliskan juga di Bebukuan Mei 2024 kemarin, ada enam judul, tetapi saya berhasil menyelesaikan empat judul saja. Bagi saya ini jumlah yang lumayan.

1. 1Q84 Jilid 2 karya Haruki Murakami

2. A Man Called Ove karya Fredrik Backman

3. Titipan Kilat Penyihir karya Eiko Kadono

4. The Biscuits karya Kim Sunmi


Koleksi Juni 2024

Bulan kemarin saya membeli beberapa buku dan otomatis masuk TBR yang makin menggunung.

1. Babel karya R.F. Kuang

2. Toko Buku Kucing Hitam karya Piergiorgio

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo





4. Parnassus Keliling karya Christopher Morley

5. A Midsummer's Equation karya Keigo Higashino

6. Win Your Inner Battles karya Darius Foroux

7. Tube karya Sohn Won-Pyung





Rencana Baca Juli 2024

Semoga di bulan Juli 2024 ini saya bisa membaca lebih dari empat judul agar TBR saya bisa berangsur-angsur berkurang.

1. Roma karya Robin Wijaya

2. Negeri Yang Dilanda Huru-Hara karya Ken Hanggara

3. Toko Buku Abadi karya Yudhi Herwibowo




4. 1Q84 Jilid 3 karya Haruki Murakami

5. Mao Mao & Berang-Berang; Penerbangan Ajaib ke Ujung Dunia karya Clara NG

6. A Dog Called Money karya Bodo Schafer




***


Nah, sekian rangkuman Bebukuan Juni 2024. Semoga bulan Juli ini kegiatan membaca saya lancar sehingga bisa mengurangi TBR. Satu lagi, semoga saya bisa mengurangi membeli buku agar bisa fokus membaca buku yang sudah ada dulu.

Untuk teman-teman, bagaimana progres Bebukuan kalian di bulan Juni kemarin? 


[Intermeso] Belajar Menulis Lebih Baik




Kapan terakhir kali bisa menulis lancar?

Pertanyaan ini sering banget mengusik perasaan akhir-akhir ini. Apalagi kalau ingat ada beberapa buku yang sudah kelar dibaca tapi belum ditulis ulasannya. Saya memang sedang kesulitan menulis, baik kelanjutan cerita di Wattpad, jurnal di Notion, atau ulasan buku di blog ini. Dan kemandegan ini bikin perasaan saya agak kurang nyaman dan sedih. 

Setelah ditelusuri seksama, saya menemukan titik awalnya. Jadi pada bulan-bulan akhir tahun 2023 saya menghadapi masalah pribadi yang besar. Waktu, pikiran, dan kewarasan otak terkuras untuk menyelesaikannya. Dan tidak jauh sebelum masalah itu datang, saya sudah menulis mati-matian dan seperti di kejar setan sebuah cerita bersambung yang saya komersialkan di akun karyakarsa. Di momen yang tumpang tindih itu, saya dipaksa berhenti. Mental saya terperosok. Ide saya menguap. Waktu menulis bukan prioritas. Dan butuh berbulan-bulan untuk bisa keluar dari masalah itu.

Jeda yang panjang bikin saya kagok merangkai kata jadi tulisan walau situasi pribadi saya sudah kembali stabil. Kemampuan saya kembali seperti bocah. Punya niat besar memulai kembali tapi otak dan tangan masih gemetaran. Persis seperti anak kecil mau mulai belajar jalan. 

Sepanjang tahun 2024 ini saya sudah belajar lagi menulis ulasan buku tapi hasilnya belum kelihatan. Hasil yang saya maksud bukan sekadar berapa tulisan yang saya buat setiap bulannya, tetapi diukur juga sudah senyaman apa saya ketika menulisnya.

Jujur, untuk satu tulisan ulasan buku harus dibuat berhari-hari karena selalu kacau membuat runutannya. Jika lolos dengan runutan, saya dicegat lagi dengan diksi-diksi hambar yang pasti bakal membingungkan pembaca blog ini. Nyawa saya di tulisan itu hampir kosong, kalau ada pun pasti menerawang hampir enggak kelihatan. 

Bahkan ada juga ulasan buku yang harus saya revisi total karena yang sudah disusun jadinya tulisan omong kosong, tidak fokus, bahkan tidak informatif. Bukan karena standar saya yang ketinggian. Saya sudah mengingatkan diri sendiri untuk menulis sederhana saja dan hasilnya bukan sederhana, lebih di bawah itu. Miris.

Keresahan perkara menulis ini membayangi hari-hari saya. Beberapa artikel dibaca terutama tips dan trik agar bisa menulis lebih baik dan lancar. Tak hanya yang berbahasa Indonesia, tulisan asing pun saya terjemahkan dulu di google lalu saya coba pahami. Sederhananya, saya pernah muak dengan menulis dan efek momen itu masih bersisa sampai sekarang.

Solusi yang paling mungkin dilakukan adalah belajar, belajar, belajar, dan sabar. Saya harus mulai menulis lagi, tidak melulu ulasan, bisa dengan tulisan random, yang pasti harus mendekatkan lagi dengan diksi-diksi dan coba-coba dirangkai dengan telaten. Tidak harus berpanjang-panjang tulisannya, bisa juga yang pendek-pendek. Tidak mesti yang langsung indah, yang utama bisa menyampaikan pesan yang mau dibagikan. Saya memutuskan untuk menulis dengan sederhana dan ringan.

Saya juga harus merubah mindset soal menulis. Jangan melihat hasilnya yang harus bagus, tapi harus bisa menikmati prosesnya. Menulis tidak boleh jadi beban, tapi solusi melepaskan beban. Menulis itu tidak boleh terkekang, tapi bisa mendewasakan. Semangat ini yang saya coba serap. Menulis itu menyenangkan dan jalan memberi manfaat untuk pembaca lain, sekali pun manfaatnya hanya hiburan.

Pada proses 'belajar menulis lebih baik' pasti akan berimbas dengan artikel-artikel ke depannya yang akan berubah-ubah. Saya tidak punya pakem yang saklek soal menulis ulasan atau tulisan lainnya. Selama ini pun berbagai format dicoba. Perbaikan di sana-sini. Copot, ganti, rombak, bangun. Itu menyenangkan buat saya, hahaha, tapi pasti belum menyenangkan pembaca blog ini. Jadi bersabar dulu ya.

Ini sudah di ujung tulisan uneg-uneg batin soal menulis. Saya sudah menerbangkan sebagian keresahan dan beban yang kemarin-kemarin memenuhi hati dan pikiran. Pengakuan sudah ditulis. Besok pasti akan menulis tulisan lainnya, bisa di sini, bisa di Wattpad, bisa juga di Notion. 

Saya ingat poin penting lainnya, belajar itu lebih enak kalau didukung orang lain. Selain sebagai pengawas, yang lain bisa jadi teman. Dan saya mau minta pembaca blog ini memberi semangat ke saya dengan kata-kata semangatnya. Tulis di kolom komentar biar saya enggak merasa sendirian.

Dan saya juga ingin mengajak teman-teman untuk, "Ayo kita belajar menulis lebih baik lagi!"